Perbedaan Tuberkulosis Anak dan Dewasa

Info Kesehatan – Sekalipun penyebab penyakit tuberkulosis (TB) pada anak dan dewasa sama, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis, namun ternyata gejala dan mekanisme TB berbeda pada keduanya. Karena itulah dibutuhkan penanganan khusus untuk kasus-kasus TB pada anak. 
Spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Wahyuni Indawati, Sp.A mengatakan, penanganan TB pada anak berbeda dengan orang dewasa, khususnya pada identifikasi gejala, pemeriksaan, dan diagnosis.
Identifikasi gejala perlu dibedakan karena gejala TB pada anak tidak sama dengan orang dewasa. “Gejala TB pada anak tidak khas dan dapat disebabkan oleh penyakit lain,” ujar Wahyuni dalam Seminar Media bertajuk “Tuberkulosis pada Anak dan Nilai dari Vaksinasi” yang diadakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu.
Namun orangtua perlu mencurigai anak terinfeksi bakteri TB apabila anak demam lama lebih dari dua minggu,  batuk lebih dari tiga minggu, anak lesu dan tidak seaktif biasanya, napsu makan turun, berat badan tidak naik selama dua bulan, terjadi kontak dengan pasien TB paru dewasa, dan teraba benjolan di leher.
Wahyuni memaparkan, saat anak terinfeksi bakteri TB, belum tentu ia akan langsung mengalami penyakit TB. Bila daya tahan tubuh anak kuat,  bakteri TB akan “tidak aktif” untuk berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Saat daya tahan tubuh anak melemah, barulah penyakit TB menimbulkan gejala.
Setelah mengetahui gejala, lanjut Wahyuni, orangtua perlu melakukan pemeriksaan TB pada anak. Untuk meningkatkan diagnosis, pemeriksaan TB anak pun berbeda dengan dewasa. Pada orang dewasa pemeriksaan TB biasanya dengan dahak. Namun pada anak, pemeriksaan dahak biasanya akan menimbulkan hasil false negative. Selain TB anak jarang disertai dengan batuk, bakteri TB dalam dahak anak juga terlalu sedikit.
Pemeriksaan TB anak dilakukan dengan dua cara, yaitu uji tuberkulin dan rontgen dada. Uji tuberkulin merupakan pemeriksaan utama yaitu dengan menyuntikkan protein bakteri TB di bawah kulit untuk menilai adanya respon tubuh terhadap bakteri. “Jika positif maka artinya tubuh pernah terpapar bakteri TB sebelumnya sehingga menimbulkan reaksi,” jelas Wahyuni.
Sedangkan rontgen dada dilakukan untuk menilai adanya kelainan pada paru. Pemeriksaan rontgen dada dapat membantu diagnosa tetapi tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya alat diagnosa. Bila hasil pemeriksaan dianggap kurang lengkap, pemeriksaan dahak juga dapat dilakukan.
“Diagnosa TB anak memang tidak semudah diagnosis TB dewasa. Maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk menghasilkan diagnosa yang tepat,” jelas sekretaris Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota IDAI ini.
Kesalahan diagnosa pada TB anak akan mengakibatkan pengobatan yang salah. Padahal pengobatan TB membutuhkan waktu yang tidak sebentar, yaitu sekitar 6 hingga 12 bulan. “Kerugian pembiayaan pengobatan merupakan kerugian utama dari kesalahan diagnosa TB anak,” tandas Wahyuni.
Sumber: kompas.com